Search This Blog

Showing posts with label BUKU SOSIOLOGI & ANTROPOLOGI. Show all posts
Showing posts with label BUKU SOSIOLOGI & ANTROPOLOGI. Show all posts

SEJARAH JAJAH DAN PERLAWANAN YANG TERSISA, Etnografi Orang Rimba di Jambi : Adi Prasetijo

Buku ini sangat perlu dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai etnografi kehidupan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam di Jambi. Serah naik jajah turun merupakan  perlambangan dari hubungan dominasi minoritas antara Orang Rimba dan Orang Melayu. Pengalaman Penulis yang telah beberapa tahun tinggal bersama dengan komunitas Orang Rimba sangat memperkaya penggambaran informasi dan kejadian pada kehidupan Orang Rimba itu sendiri dan lingkungan yang mempengaruhinya. Haruskah mereka tetap menjadi Orang Rimba atau memilih untuk tidak diakui sebagai Orang Rimba.



INFO BUKU

Judul: Serah Jajah dan Perlawanan Yang Tersisa
Penulis: Adi Prasetijo
Penerbit: Wedatama Widya Sastra
Edisi: Cetakan ke-1, Tahun 2011
Halaman: xvii + 298 hal
Ukuran: 14 x 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 65.000 Rp. 55.000,-
Call No: 306/Pras/S

KARL MANNHEIM SOSIOLOGI SISTEMATIS, Soerjono Soekanto

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat - struktur, proses, perubahan-perubahan yang berlangsung di dalam dan masalah-masalahnya Karena itu, dipelajari oleh hampir semuawarga akademika, tak perduli apakah warga itu berangkat dari kejuruan teknis - asal ilmunya bersentuhan dengan masyarakat - ia membutuhkan sosiologi. Sosiologi adalah ilmu yang diharapkan mempuni untuk membaca gerak masyarakat, menangkap kecenderungan atau menyergap efeknya.

Dengan ini sosiologi kian semarak, tidak saja oleh kegandrungan publik tapi lebih dari itu oleh ragam teorinya yang begitu handal. Masalahnya, apakah semua teori itu cocok, baik atau pantas untuk setiap situasi kemasyarakatan yang ada. Di sinilah diperlukan pemahaman yang seksama terhadap acuan, gagasan dan pemikiran para pencetusnya yang hakiki.

Selaras dengan langkah itulah, dengan khusus, kami meminta kasediaan seoarang tokoh sosiologi Indonesia, Prof. Dr. Soerjono, untuk mengarapnya dalam satu seri lengkap. Harapan kami yang tertinggi adalah keputusan dan manfaat yang tak terhingga.

INFO BUKU

Judul: Karl Mannheim Sosiologi Sistematis
Penulis: Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A
Penerbit: Rajawali
Edisi: 1985
Halaman: 123
Ukuran: 13.5 x 21.6 x 0.7 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Bekas Koleksi Pribadi
Harga: Rp. 40.000
Call No: 306/Soe/k

TAMASYA DALAM HIPEREALITAS, Umberto Eco

Umberto Eco - Novelis, pakar semiotika, dan kritikus budaya yang luar biasa - dalam buku ini memperlihatkan kecerdasan, pembelajaran dan kecemerlangan inteligensi sebagaimana yang membuat para pembaca The Name of the Rose, Foucalt's Pendulum, dan Baudolino merasa begitu terhibur. Cakupan tulisan Eco dalam buku ini sangat luas- mulai dari budaya pop hingga filsafat, dari People's Temple hingga Thomas Aquinas, dari Casablanca hingga Roland Barthes.

Esai pembuka memperlihatkan ketekunan dan pencarian sang pengarang yang bertamasya melintasi seluruh daratan Amerika manakala ia sedang mencari tempat untuk menyelidiki perbatasan realisme, jiplakan (copy) yang menjanjikan lebih ketimbang yang asli, seperti museum lilin, hall of fame, theme park, kebun binatang. Dalam "Kembalinya Abad Pertengahan" Eco melontarkan berbagai pertanyaan tentang modernitas kita; sedang dalam "Desa Global" Eco bergerak dari media massa ke olahraga massal. Ada juga mutiara-mutiara kecil yang berlimpah, seperti dalam esai "Pemikiran Lumbar" Eco mengamati bagaimana blue jeans telah membentuk manusia.

Wawasan Eco dalam esai-esai ini sangat tajam, tak jarang bernada ironis, dan seringkali sungguh jenaka. Mengutip San Fransisco Chronicle, Eco memiliki "begitu banyak wawasan untuk mengajari kita semua tentang pentingnya (tidak menyebutkan kepuasan) observasi dan kritisisme, karena kedua persoalan inilah yang mengistimewakan-dan, sebagaimana dikatakannya, mewajibkan-seluruh umat manusia yang berpikir."

"Eco memikirkan hampir segala hal di seluruh dunia-holografi, museum lilin, 'Kembalinya Abad Pertengahan', Superman dan Casablanca, Frederico Fellini dan Michaelangelo Antonioni, sekte agama Afrika kuno yang masih bertahan serta cara pemujaan di Brazil kontemporer, Jim Jones dan People's Temple-nya, Brigade Merah dan terorisme secara umum, Marshall McLuhan dan Charles Manson, Woody Allen dan Santo Thomas Aquinas, implikasi sosial maupun personal dari blue jeans ketat dan makna rahasia dari olahraga tontonan... begitu banyak kesenangan yang ditemukan dalam seluruh eksplorasi Eco ini."
-New York Times Book Review


INFO BUKU

Judul: Tamasya Dalam Hiperealitas
Penulis: Umberto Eco
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 1999
Halaman: 455
Ukuran: 15 x 21 x 2cm
Sampul: Sogt Cover
Bahasa: Indonesia
Harga: Rp. 115.010,- Rp. 103.500
Call No: 306/Eco/t

MEMBEDAH MITOS MITOS BUDAYA MASSA, Rolan Barthes

Buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa memperlihatkan kepemurahan yang elok akan minat progresif Barthes terhadap makna (dia menyebutnya signifikasi) ihwal hampir segala sesuatu di sekitarnya, bukan hanya buku-buku dan lukisan seni tinggi, tetapi juga pelbagai slogan, hal-hal sepele, boneka, makanan, dan ritual pop (berlayar, striptease, makan, pertandingan gulat) dalam kehidupan kontemporer. (Edward W. Said)

Inilah buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa karya Roland Barthes yang paling banyak dibaca, yang memperlihatkan bahwa Barthes adalah analis yang paling jeli ihwal sosiopatologi kehidupan sehari-hari. Buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa ini memiliki cakupan yang luas tentang berbagai praktik, peristiwa, dan objek budaya mulai dari foto, makanan di majalah hingga gagasan tentang serangan alien, dari gambar ikonik wajah Greta Garbo hingga cara bagaimana mobil, busa sabun, dan genre sastra diperjualbelikan kepada bublik dari liputan media tentang skandal tingkat tinggi hingga retorika politikus, dari ritual agama massa hingga dampak pameran seni pop, serta dari bahasa yang berseliweran di seputar peristiwa olahraga seperti Tour de France hingga refleksi puitis akan menara Eiffel. Dalam buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa ini Barthes terus-menerus memainkan gagsasan alam/budaya (nature/culture) sebagai manifestasi perbedaan antara Universal/historis. Permasalahannya, keseluruhan mitologi budaya massa menyajikan wajah ideologis universalitas (kealamian) ketika sebenarnya mereka mempromosikan seperangkat gagasan historis/partikular.

Setelah membaca buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa, Anda akan melihat kehidupan keseharian dalam suatu pemahaman baru. Barthes mengajari kita untuk tidak lagi melihat dunia dengan mata sang penerima pengakuan dosa, atau fisikawan, tetapi dengan mata manusia yang berjalan-jalan di kotanya tanpa horison apa pun selain tontonan semata di hadapannya, tanpa kekuasaan selain matanya sendiri. Dan, secara signifikan, ajaran yang dikemukakannya disuarakan secara unik karena bersifat sangat intim namun tidak pribadi, bertanggung jawab namun tidak suka mencampuri urusan orang lain, meyakinkan namun tidak menuduh. Barthes laksana Ariadne, sang putri Raja Minos dari Kreta yang memberi Theseus bola benang agar bisa keluar dari labirin setelah membunuh Monotaur. Boleh jadi benang yang Barthes berikan untuk menelesuri labirinan kota kita beserta kehidupan kesehariannya adalah paradoks yang tidak dapat kita harapkan dari pemikir lain, yaitu mengajak kita keluar dari labirin untuk kemudian masuk lebih dalam lagi.

INFO BUKU

Judul : Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau Semiologi Tanda, Simbol dan Representasi
Penulis : Roland Barthes
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2006
Halaman: 364
Ukuran: 15 x 21 x 2 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp.75.000
Call No: 070/Bar/m

TRANSFORMASI GERAKAN ACEH MERDEKA, Bob Sugeng Hadiwinata dkk

LELAKI itu berpenampilan cukup gaya. kaos hitam dengan lambang kodok di bagian saku, Sepatu olah raga. Celana jins. Kulitnya putih agak gemuk. Meski tidak sedang sedih. Nama lahirnya, Muhammad Sukri bin Sulaiman. Tapi dia lebih dikenal dengan nama julukannya dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM): Tengku Diladang. Dia dulu panglima pasukan GAM di wilayah Singkil, Aceh Selatan.

Dia gemar menulis puisi. Di sela-sela percakapan kami, dia kadang melafal bait-bait puisinya. Bersama dia siang itu ada dua lelaki, Herman Jal alias Tengku Man dan Juanda alias Tengku Anwar Amin. Tengku Man tidak banyak bicara dan kadang tersenyum mendengar apa yang dilontarkan Tengku Diladang. Namun, Tengku Anwar berkali-kali menimpali percakapan kami. Suaranya keras, kulitnya hitam dan wajahnya mengesankan ekspresi orang yang selalu marah. Dia tidak terima para bekas panglimanya disamakan dengan bekas panglima perang Timor Leste, Xanana Gusmao yang dulu jadi simbol perlawanan rakyat Timor Leste ternyata menciptakan pemerintahan yang korup ketika memimpin negara itu sebagai Presiden.

Meraka bertiga mendapat tugas jaga di rumah Hasan Tiro di Banda Aceh, tapi siang itu mereka tengah beristirahat. Tiro baru saja pulang berobat dari Malaysia. Tiga bulan kemudian, pada 3 Juni 2010 proklamator GAM yang menderita infeksi jantung, gangguan pernapasan dan leukimia itu wafat di rumah sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Tengku Diladang membiarkan Tengku Anwar berceloteh, baru kemudian melanjutkan bicara. "Nah, inilah contoh yang belum dapat pelatihan FES (Frederich Ebert Stiftung)," katanya, seraya tersenyum.

Demikianlah cuplikan wawancara Linda Christanty dengan Muhammad Sukri bin Sulaiman alias Tengku Diladang. Setelah perjanjian damai ditandatangani di Helsinki, banyak sekali kombatan yang masih meraba-raba arah perdamaian, yang mereka paham selama ini hanyalah senjata dan perang, tak ada pengalaman dalam masa damai. Buku ini berkisah tentang proses transformasi kombatan GAM dari berbagai perspektif.

INFO BUKU

Judul : Transformasi Gerakan Aceh Merdeka
Penulis : Bob Sugeng Hadiwinata dkk
Penerbit: FES (Friedrich Ebert Stiftung)
Edisi: 2010
Halaman: 234
Ukuran : 15 x 21.2 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 80.000
Call No: 320/Had/t

BOWLING ALONE, Robert D. Putnam


Once we bowled in leagues, usually after work -- but no longer. This seemingly small phenomenon symbolizes a significant social change that Robert Putnam has identified in this brilliant volume, Bowling Alone, which The Economist hailed as "a prodigious achievement."

Drawing on vast new data that reveal American's changing behavior, Putnam shows how we have become increasingly disconnected from one another and how social structures -- whether they be the PTA, church, or political parties -- have disintegrated. Until the publication of this groundbreaking work, no one had so deftly diagnosed the harm that these broken bonds have wreaked on our physical and civic health, nor had anyone exalted the fundamental power of these bonds in creating a society that is happy, well educated, healthy, and safe.

Like defining works from the past, such as The Lonely Crowd and The Affluent Society, and like the works of C. Wright Mills and Betty Friedan, Putnam's Bowling Alone has identified a central crisis at the heart of our society and suggests what we can do.

INFO BUKU

Judul: Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community
Penulis: Robert D. Putnam
Penerbit: A Touchstone Book
Edisi: 2000
Halaman: 541
Dimensi: 13 x 20.5 x 2cm
Sampul: Paperback
Bahasa: English
Kondisi: Buku Bekas Koleksi Pribadi
Harga: Rp. 60.00
Call No.: 306.09/Put/b

INDIKATOR KEMISKINAN DAN MISKLASIFIKASI ORANG MISKIN, Ali Khomsan

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ,pendapatan, pendidikan, lokasi, gender, dan kondisi lingkungan. Kemiskinan di Indonesia dicirikan oleh banyaknya rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan. Akibatnya, meski tidak tergolong miskin, mereka rentan terhadap kemiskinan. Buku ini mencoba menelaah kemiskinan ditinjau dari berbagai standar garis kemiskinan, sehingga dapat diketahui adanya misklasifikasi penggolongan rumah tangga miskin.

INFO BUKU

Judul : Indikator Kemiskinan dan Misklasifikasi Orang Miskin
Penulis : Ali Khomsan, Arya Hadi Dharmawan DKK
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Edisi: 2011
Halaman: 140
Ukuran: 14.5 x 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 40.000 Rp. 35.000
Call No: 305/Kho/i

TAFSIR KEBUDAYAAN, Clifford Geertz

Menurut Geertz, untuk mendekati peristiwa sosial, perlulah seorang ilmuwan tidak sekadar mencari hubungan sebab-akibat melainkan berupaya memahami makna yang dihayati dalam sebuah kebudayaan. Sebab kebudayaan adalah anyaman makna-makna, dan manusia adalah binatang yang terperangkap dalam jerat-jerat makna itu. Karena itulah kebudayaan bersifat semiotik dan kontekstual.

Buku Tafsir Kebudayaan menampilkan usaha pendekatan Geertz terhadap kebudayaan yang disebutnya "thick description" (lukisan mendalam), yakni menafsirkan sistem-sistem simbol makna kultural secara mendalam dan menyeluruh dari perspektif para pelaku kebudayaan sendiri. Beberapa tema besar dalam antropologi pada bagian satu buku ini, seperti: dampak konsep kebudayaan pada konsep manusia, pertumbuhan kebudayaan dan evolusi pikiran, dan pikiran primitif, tak luput dari tafsiran mendalamnya. Selanjutnya, dalam bagian kedua, Geertz memberikan contoh bagaimana ia mempraktekkan "thick description" dari perspektif pelaku kebudayaan bali, yaitu pada gejala peraihan religius, pandangan tentang pribadi, waktu dan tingkah-laku, dan pada permainan sabung ayam di Bali.

Pendekatan Geertz ini tentu saja menantang siapa saja yang mendekati kebudayaan secara positivistis.

INFO BUKU

Judul: Tafsir Kebudayaan
Penulis: Clifford Geertz
Penerbit: Kanisius
Edisi: Cetakan Keempat, 2016
Halaman: 282
Ukuran: 15 x 21 x 1.5 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 60.000 Rp. 51.000
Call No: 100/Gee/t/d0

EKOFEMINISME III TAMBANG PERUBAHAN IKLIM DAN MEMORI RAHIM, Dewi Candraningrum Dan Arianti Ina Restiani Hunga

Kebutuhan perumahan bagi pekerja di wilayah timur Jakarta menjadikan wilayah lumbung padi Bekasi menjadi primadona untuk permukiman. Hal ini mendorong alihfungsi lahan pertanian menjadi perumahan yang tidak terkendali. Dua masalah, limbah dan alihfungsi lahan pertanian adalah masalah yang dihadapi di utara Bekasi. Pembangunan yang digadang-gadang ampuh memutus kemiskinan ini justru menjadi penyebab pemiskinan.

Khaerul Umam Noer

Ketua Pusat Kajian Wanita dan Gender, Universitas Indonesia

Secara anatomik, rahim adalah bagian dan organ biologis perempuan. Dalam bahasa yang Iebih sederhana, rahim merujuk pada kantung peranakan tempat tumbuh kembangnya janin. Rahim dalam pengertian ini mengacu pad afungsi dan kapasitas produktif perempuan. Rahim juga dipahami sebagai sesuatu yang produktif, yang menghidupkan, menciptakan dan menyayangi. Tetapi, meski kehidupan bermula dan bertumbuh darinya, rahim perempuan tidak serta merta diagungkan dalam ruang kultural. Sebaliknya, rahim sering digunakan untuk menista kapasitas seksual, merongrong subjektivitas dan sekaligus membangun segregasi di antara perempuan. Ada penempuan hamil yang disanjung dan dirayakan tetapi adapula perempuan hamil yang dicaci sebagai pendosa—ketika nahimnya tidak bisa berfungsi menghidupi janin, perempuan dianggap kehilangan kesempurnaannya.

Ratna Noviani

Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM

Pohon mempunyai nilai khusus bagi masyarakat Hindu karena ada keyakinan bahwa pohon memiliki spirit yang istimewa, karena di dalamnya bersemayan spirit Sang Hyang Widhi melalui wujud Dewa Sangkara yang memelihara dan melindungi pohon. Karena itu pohon-pohon tertentu diberi pemujaan dengan membuat sesaji dan atribut berupa kain sarung motif kotak-kotak putih hitam yang dilingkarkan di batang pohon. Pohon yang mendapat atribut tersebut dilarang untuk ditebang.

Soka Handinah Katjasungkana

Pengurus NasionalAsosiasi LBH APIK Indonesia

Hutan tak hanya sebagai sumber daya alam bagi perempuan adat. Hutan bagi mereka dipandang sebagai sebuah filsafat dan budaya. Sungai dan rawa tak hanya sumber pangan. la juga budaya warga. Sungai-sungai dan rawa adalah tempat perempuan-penempuan adat mengajari anak-anak meneka menyelamatkan diri dan bertahan di air. Sejak hadirnya perkebunan monokultur, tambang, dan lain-lain di Kalimantan, kemudian mereka kehilangan kosmologinya. Tak hanya keindahan yang hilang, tetapijuga pencemanan Iingkungan yang akut berdampak pada kelahiran bayi-bayi yang kemudian cacat.

Sapariah Saturi

Editor Mongabay Indonesia

Pengantar Editor

Di tahun 1994 kurang lebih 179 negara bertemu dalam sebuah konferensi internasional yang membahas aksi untuk populasi dan pembangunan di Kairo. Konferensi ini dikenal sebagai ICPD (International Conference for Population & Development). Program aksi yang dicanangkan adalah kesehatan reproduksi, kesehatan dan hak reproduksi dan seksual. Ini kemudian mengubah arah paradigma pembangunan yang mempromosikan SRHR (Sexual and Reproductive Health and Rights). SRHR kemudian menjadi jantung dari pembangunan demografi. Agendanya adalah: kesetaraan gender, hak asasi manusia, perubahan iklim, dinamika populasi, konflik, bencana alam, ketahanan pangan dan gizi, dan akses pada sumber daya alam. Kerangka dasar dalam MDGs (Millennium Development Goals) pada mulanya tidak mengandung SRHR, tetapi sejalan dengan implementasinya, kemudian dimasukkan akses universal atas SRHR (Sexual and Reproductive Health and Rights) sebagai bagian dari ukuran pembangunan sejak tahun 2000, yaitu dengan memasukkan angka kematian ibu melahirkan. Catatan dan monitor ARROW (Asian-Pacific Resource and Research Centre for Women) dalam ICPD+15 monitoring mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk dalam 12 negara Asia yang belum menunjukkan kemajuan dalam perihal indeks SRHR.

Rasio kematian ibu melahirkan di Indonesia di tahun 2005 masih tinggi sampai dengan sekarang dan secara keseluruhan di Asia Tenggara dan Asia pada umumnya, yaitu rata-rata 420 (Arrow Report, 2013: http://www.arrow.org.my/?p=about-indonesia). Dengan penduduk kurang lebih 228,5 juta, pertumbuhan populasi 1,36% per tahun dan kepadatan pendudukan 123 orang/km, di Indonesia masih tercatat aborsi tak aman yang cukup tinggi, yaitu 15% dari kematian ibu (89% di kalangan perempuan menikah dan 11% di kalangan single). Perihal tersebut disebabkan akses hak dan pendidikan SRHR tidak didapatkan dengan cukup baik. Di samping kematian ibu melahirkan karena melahirkan dan aborsi, terdapat pula kasus infeksi HIV/AIDS karena buruknya akses atas SRHR. Dalam bukunya Linda Rae Bennett, Women, Islam and Modernity: Single women, sexuality and reproductive health in contemporary Indonesia (London: Routledge, 2005), mencatat bahwa salah satu faktor penyebab akses pendidikan dan hak kesehatan reproduksi seksual adalah ditabukannya diskursus tubuh dan konservatisme agama yang kemudian diakselerasi oleh kebijakan otonomi daerah, via peraturan-peraturan daerah yang bias SRHR (Komite Nasional Perempuan telah mengidentifikasi 342 perda diskriminatif terhadap perempuan). Indeks SRHR di Indonesia menunjukkan rata-rata rendah dari 0,116 pada tahun 2007 sampai dengan sekarang. Perubahan iklim kemudian memperparah kondisi akses dan hak SRHR dengan adanya banjir di musim penghujan, kelangkaan air di musim kemarau, kelangkaan pangan, prevalensi kanker tinggi karena pola konsumsi makanan berubah, dan risiko bencana alam yang selalu mengintai seiring dengan buruknya konservasi lingkungan.

Rahim Iklim

Dalam definisinya yang luas, ICPD 1994 Kairo mendefinisikan SRHR sebagai “a state of complete physical, mental and social well-being and... not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to the reproductive system and to its functions and processes. Reproductive health therefore implies that people are able to have a satisfying and safe sex life and that they have the capability to reproduce and the freedom to decide if, when and how often to do so. Implicit in this last condition are the right of men and women to be informed and to have access to safe, effective, affordable and acceptable methods of family planning of their choice, as well as other methods of their choice for regulation of fertility which are not against the law, and the right of access to appropriate health-care services that will enable women to go safely through pregnancy and childbirth and provide couples with the best chance of having a healthy infant” (Paragraf 76).

Perubahan iklim merupakan fenomena yang melibatkan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan kegiatan alam itu sendiri. Pemicu utamanya adalah pemanasan global yang semakin intensif sejak revolusi industri dan percepatan bocornya ozon karena efek rumah kaca. UNDP memberikan ilustrasi bagaimana perubahan iklim memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kesehatan reproduksi dan seksual perempuan dan laki-laki. Seperti misalnya kekeringan, banjir, gempa, erupsi merapi akan menambah kerentanan manusia atas ketercukupan gizi, kekurangan air bersih, yang pada ujungnya mempengaruhi kesehatan reproduksi. Terlebih ibu hamil dan menyusui mendapatkan beban terbesarnya dari perubahan iklim. Inilah yang kemudian meningkatkan angka kematian ibu melahirkan dalam kerangka perubahan iklim. Dalam hal ini Hyogo Framework 2005 menyediakan antisipasi langkah dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim. Layanan kesehatan di Indonesia meningkat dari 68% menjadi 76% di tahun 2010 dengan variasi dan gap yang berbeda-beda antar provinsi. Meskipun angka kehamilan remaja cukup tinggi, yaitu 48 kehamilan dari 1000 anak perempuan dalam usia antara 15-19 tahun. Tingginya kehamilan remaja disebabkan oleh tidak teraksesnya pendidikan dan hak kesehatan reproduksi seksual karena meningkatnya konservatisme pendidikan agama yang menyangka bahwa pendidikan ini ‘berbahaya’. Di samping tak adanya akses pendidikan kespro (kesehatan reproduksi), tingkat pendidikan yang rendah, dan kondisi kemiskinan yang memicu tingginya angka kehamilan di kalangan remaja.

Baik laki-laki dan perempuan menghadapi persoalan yang sama dalam pengaruh perubahan iklim dan pemanasan global, yaitu (1) kehilangan akses dan kontrol atas sumber daya alam dan ekosistem, semakin rentan; (2) semakin terpapar dan rentan atas risiko polusi dalam kerja produksi ekonomi; (3) rentan atas risiko bencana yang disebabkan oleh kesalahan tata kelola lahan dan lingkungan. Hal ini kemudian memperparah ketersediaan sumber pangan dasar manusia yang memberikan pengaruh langsung pada kesehatan reproduksi seksual manusia, baik lakilaki dan perempuan. Perubahan iklim meminta beberapa tahap penanganan, yaitu adaptasi, mitigasi, respons darurat, dan pemulihan (recovery). Dengan perihal itu, lalu akibatnya atas perempuan kemudian berbeda atas laki-laki. Dus perubahan iklim memberikan pengaruh yang berbeda pada perempuan daripada laki-laki, terlebih gender ketiga yang posisinya masih marjinal dalam kebijakan dan pembangunan. Perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman hidup dan kapasitas yang berbeda dalam menghadapi perubahan iklim, dan memiliki potensi yang setara untuk menjadi agen perubahan. Sementara kebutuhan, motivasi dan hasrat perempuan dan laki-laki dalam menghadapi perubahan iklim juga amat berbeda dan ini kemudian memberikan dampak yang berbeda pada laki-laki dan perempuan.

Kerentanan Perempuan

Jawa Tengah merupakan daerah rawan bencana, yaitu gempa, erupsi Merapi, banjir, longsor, kekeringan dan rusaknya ekosistem pantai, baik pantai utara dan pantai selatan. Meskipun demikian, Jawa Tengah dikenal sebagai provinsi yang amat subur dan dialiri oleh beberapa sungai penting. Provinsi dengan penduduk 32.38 juta manusia ini memiliki indeks SRHR 0.106 di tahun 2007, yaitu lebih rendah dari rerata nasional 0.116. Dalam hal ini kemudian dapat disimpulkan bahwa perempuan lebih rentan daripada lakilaki dalam kerangka menghadapi perubahan iklim. Misalnya, sebagai pengolah masakan, perempuan membutuhkan air lebih banyak. Demikian juga proses kehamilan, melahirkan, menyusui menjadikan perempuan membutuhkan lebih banyak air daripada laki-laki. Di daerah-daerah pedesaan perempuan bertanggung jawab untuk mengambil dan menyediakan air untuk perikehidupan keluarga. Perempuan merupakan penyangga air bagi komunitas dalam hal pangan dan kesehatan reproduksi. Akan tetapi, hal ini tidak masuk dalam renumerasi pekerjaan yang dihargai dalam strategi pembangunan.

Dalam sejarahnya kebijakan perubahan iklim tidak memasukkan aspek gender (gender blind), ini kemudian ditambahkan sebagai sebuah matra dalam COP 15 Desember 2009, yaitu oleh PBB dan organisasi masyarakat sipil dalam kerangka UNFCCC. Sejak saat itu langkah-langkah dimulai dengan memasukkan rekomendasi gender dalam narasi kebijakan perubahan iklim, terutama di aras mitigasi yang masih sangat buta gender. Mengapa? Misalnya, bahwa akses atas air yang langka membuat perempuan berjalan lebih lama dalam mengambil air. Ini lebih jauh mengubah struktur ekologis, yaitu kemudian menggerus struktur sosial, dari masyarakat berbasis perkebunan perikanan berubah menjadi masyarakat berbasis jasa atau tambang atau industri. Lanskap masyarakat agrikultur yang berubah menjadi masyarakat industri atau tambang, misalnya, kemudian melahirkan ikutan konflik sosial semacam perebutan lahan, perkebunan monokultur yang merusak ekosistem, kelangkaan sumber daya alam, kelangkaan air, dan munculnya pelbagai penyakit ‘baru’ yang khas dalam masyarakat industri dan tambang, yaitu kanker dan HIV/AIDS , dan lain-lain, yang kesemuanya mempengaruhi hak dan kesehatan reproduksi seksual (SRHR).

INFO BUKU

Judul : Ekofeminisme III Tambang Perubahan Iklim Dan Memori Rahim
Penulis : Dewi Candraningrum Dan Arianti Ina Restiani Hunga
Penerbit: Jalasutra
Edisi : 2015
Halaman : 392
Ukuran : 15 X 23 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 80.750 68.600

EKOFEMINISME II NARASI IMAN MITOS AIR DAN TANAH, Dewi Candraningrum

“Mitos sering dimobilisasi untuk berbagai keperluan politik dan ideologis yang sifatnya regresif, tetapi juga bisa mengalami perubahan ke arah transformatif. Mitos tidak hidup dalam ruang hampa, kedap terhadap dinamika wacana dan politik kekuasaan. Pembongkaran mitos-mitos penguasa perlu dilakukan karena masih banyak sang Dewi dalam mitos-mitos Nusantara tersebut, terperangkap, terepresi di sana”.
Sylvia Tiwon
(University California Berkeley)

“Bagi masyarakat Lombok, konsep lumbung menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan. Konsep yang memilah antara padi untuk konsumsi, padi sebagai bibit, padi yang harus dikonservasi, kepentingan ritual dan spiritual, pun untuk kegiatan pendidikan. Perempuan dan lumbung padi tidak bisa dipisahkan. Umpak atau tempat pijakan tiang-tiang pada bangunan lumbung, disimbolkan sebagai telapak kaki ibu. Artinya, perempuan sebagai penyangga sekaligus memiliki hak kelola atas padi dalam lumbung itu”.
Khalisah Khalid
(WALHI-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

“Saya juga sempat mewawancarai beberapa perempuan Pulau Pura NTT yang berusia lanjut. Mereka ingat bahwa dulu saat mereka masih kecil dan masih muat untuk dimasukkan dalam keranjang belanja, saudara laki-laki mereka di saat musim kelaparan menukarkan dirinya dengan bahan pangan yang didapat dari desa lain”.
Susanne Rodemeier
(Universität Heidelberg)

“Pengalaman penelitian risiko bencana di sekolah-sekolah di kawasan risiko tinggi erupsi Merapi menunjukkan ancaman risiko bencana meningkat jika erupsi Merapi terjadi pada waktu aktivitas sekolah berlangsung. Sekolah berubah menjadi tempat paling rentan bagi anak-anak dan perempuan. Sementara kapasitas sekolah dan kesadaran gender dan ekologi belum menjadi pendekatan penting dalam sistem manajemen sekolah”.
Ahmad Badawi
(YLSKAR-Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi & Refleksi)

INFO BUKU

Judul : Ekofeminisme II Narasi Iman Mitos Air Dan Tanah
Penulis : Dewi Candraningrum
Penerbit: Jalasutra
Edisi : 2014
Halaman : 332
Ukuran : 15.5 X 23 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 68.850 58.400

ALAIN BADIOU DAN MASA DEPAN MARXISME, Martin Suryajaya

Marxisme. banyak yang menyebutnya sudah usang Akibatnya. ide-ide filsafat politik Kiri kontemporer pun dibicarakan secara abstrak Kebaruan pemikiran Jacques Ranciere. Slavoj Zizek. Ernesto Laclau, Giorgio Agamben. Antonio Negri. termasuk juga Alain Badiou yang belum lama berselang ramai diperbincangkan dunia filsafat Indonesia diyakini sebagai kebaruan ‘radikal” yang seolah tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan pemikiran yang sebelumnya Kecenderungan untuk berpikir secara ahistoris ini mengemuka dalam tuduhan yang tergesa-gesa bahwa perangkat teori emansipasi lama. khususnya Marxisme klasik. sudah “tidak memadai lagi” untuk menjelaskan fenomena politik kontemporer.

Buku ini menunjukkan bahwa pemikiran Kin kontemporer dapat diterjemahkan ke dalam kosakata Marxisme klasik dan. dengan demikian. menelanjangi kebaruan spekulatif yang umumnya disematkan kepadanya Segala kesan tentang “kebaruan absolut”. sesungguhnya muncul dan kecenderungan intelektual kelas menengah kita yang takut akan sejarah Mereka Iebih senang bermain dalam jargon-jargon hypne tentang segala apa yang disebut “kontemporer” sembari mengecam segala yang muncul dan sejarah sebagai “kuno” Tentu saja. ada kebaruan dalam pemikiran para tokoh itu. namun kebaruan itu tak bisa dilepaskan dan konteks sejarahnya.

Buku ini berupaya secara telaten mengupas konteks-konteks sejarah itu sehingga menunjukkan bahwa ada kebaruan yang memang muncul dan pemikiran itu dan ada “kebaruan absolut” yang tak Iebih dan akibat ketidaktahuan kita sendiri tentang sejarah.

Buku “Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme” karangan Martin Suryajaya ini merupakan pengantar menuju pemikiran Alain Badiou, seorang filsuf Maois Prancis kontemporer. Pemikirannya yang dikupas adalah teorinya tentang emansipasi dan tentang tesisnya bahwa “Komunisme itu benar adanya”. Dalam kupasan itu, gagasan filsafat Badiou ditempatkan dalam konteks sejarah gerakan Kiri dunia: Komune Paris, Revolusi Bolshewik, Revolusi Kebudayaan dan Peristiwa Mei ’68. Melalui buku ini, kita juga disodori rekonstruksi Badiou atas fase-fase gerakan komunis yang dibaca dari kerangka filsafat. Buku ini cocok dibaca oleh peminat filsafat Prancis kontemporer maupun Marxisme.(less)

INFO BUKU

Judul : Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme
Penulis : Martin Suryajaya
Penerbit: Resist Book
Edisi : 2011
Halaman : 299
Ukuran : cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 51.000 46.900

MARXISME, Hanri Lefebvre

Lebih dari satu setengah abad yang lalu, sesaat sebelum Revolusi 1848 dan menjelang pecahnya beberapa revolusi di Eropa, Karl Marx menyusun garis besar untuk kumpulan teori yang sangat luas dan ditulis dari beragam sudut pandang, yang nantinya akan disebut sebagai Marxisme. Seiring dengan kuatnya pengaruh dari Marxisme, pelbagai interpretasi yang mendekati atau malah justru sangat berbeda pun muncul.

Mengacu pada karya Das Kapital, dalam buku pengantar yang ditujukan pada mahasiswa dari berbagai kalangan ini, Henri Lefebvre menjabarkan tentang ‘pandangan dunia’ yang dikembangkan oleh Marx, bersama dengan pandangannya tentang filsafat, moralitas, sosiologi, sejarah, ekonomi, dan politik yang sangat berpengaruh pada dunia kontemporer saat ini.

INFO BUKU

Judul : Marxisme
Penulis : Hanri Lefebvre
Penerbit: Jalasutra
Edisi : 2015
Halaman : 128
Ukuran : 12 X 19 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 51.000 46.900

REVOLUSI PANCASILA, Yudi Latif

Orang bilang, tanah kita tanah surga: kaya sumber daya, indah permai bagai untaian zamrud yang melilit khatulistiwa. Namun, di taman nirwana dunia timur ini, kelimpahan mata air kehidupan mudah berubah menjadi air mata. Kekuasaan datang-hilang, silih berganti membuai mimpi; tapi nasib rakyatnya tetap sama, kekal menderita. Mimpi indah kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur lekas menjelma menjadi mimpi buruk: tertindas, terpecah-belah, terperbudak, timpang, miskin.

Kanker krisis yang mengiris bangsa ini telah menyerang segala jaringan pembuluh darah dan menembus kedalaman jantung kehidupan. Usaha menyembuhkannya tak cukup dengan memberikan obat penahan rasa sakit. Harus dilakukan operasi mendasar untuk membabat biang penyakit hingga ke akar-akarnya yang terdalam. Revolusi, kata yang pahit diucapkan, tapi tak terhindarkan. Sebuah revolusi yang sesuai dengan nurani kemanusiaan dan warisan luhur kepribadian bangsa, Revolusi Pancasila.

Artinya, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, tidak cukup menjadi alat persatuan semata, tetapi juga harus menjadi praksis-ideologis yang memiliki kekuatan riil bagi perwujudan perikehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Singkat kata, apa yang harus kita lakukan adalah mengobarkan Revolusi Pancasila!


INFO BUKU

Judul : Revolusi Pancasila
Penulis : Yudi Latif
Penerbit: Expose
Edisi: 2015
Halaman: 220
Ukuran: 0.20 kg
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 54.400 46.000

AMERIKA SERIKAT BANGSA BARU YANG PERTAMA, Seymour Martin Lipset

Amerika Serikat bisa secara pantas mengklaim sebutan sebagia bangsa baru yang pertama. Negeri ini merupakan koloni besar pertama yang berhasil melepaskan diri dari kekuasaan kolonial melalui revolusi. Tentu saja, disusul kemudian dalam waktu beberapa dekade oleh kebanyakan koloni Spanyol di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tetapi, sementara Amerika Serikat mencontohkan sebuah bangsa baru yang berhasil mengembangkan perekonomian industri, struktur sosial yang relatif terintegrasi (di luar isu ras), dan kepolitikan demokratik yang stabil, sebagian besar bangsa-bangsa Amerika Latin tidak mengalami hal itu. Secara ekonomi, mereka tetap terbelakang, secara internal; terbagi menurut garis-garis rasial, kelas, dan (dalam beberapa kasus) linguistik, serta memilki kepolitikan yang tidak stabil, terlepas dari demokratik atau diktatorial. Jadi, mungkin bangsa pertama ini dapat menyumbang lebih dari sekedar uang bagi bangsa-bangsa yang terbentuk kemudian; barangkali perkembangannya dapat memberikan kepada kita beberapa kunci mengenai bagaimana nilai-nilai egaliter revolusioner dan populis akhirnya menjadi menyatu ke dalam suatu kepolitikan non otoriter yang stabil.

Dalam bagian ini, saya akan mengkaji periode awal sejarah Amerika sebagai sebuah bangsa baru, dalam upaya untuk menguraikan melalui analisis komparatif beberapa persoalan dan beberapa proses pembangunan yang umum bagi semua bangsa. Dan dalam melakukan hal itu, saya juga akan menyoroti beberapa lingkungan yang khas bagi perkembangan Amerika, beberapa kondisi yang membuat Amerika yang masih muda menjadi tempat yang sangat menguntungkan guna mengembangkan institusi-institusi demokratik.

INFO BUKU

Judul: Amerika Serikat Bangsa Baru Yang Pertama
Penulis: Seymour Martin Lipset
Penerbit: Pustaka Sianar Harapan
Edisi/Tahun: 1994
Halaman: 401
Dimensi: 14.3 x 20.4 x 1.8 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Bekas
Harga: Rp. 30.000
Call No: 973/Lip/a

MENGENAL MASYARAKAT DAN BUDAYA AMERIKA SERIKAT, Luther S. Luedtke

Buku Mengenal Masyarakat dan Budaya Amerika Serikat adalah buku Forum Series yang diterbitkan oleh lembaga Penerangan Amerika Serikat (United States Information Agency), Divisi untuk studi Amerika Serikat (Division for the Study of the United States).

Buku ini kaya kan berbagai bahan keterangan dan dapat dijadikan titik tolak untuk membahas karakter Amerika: tata nilainya, perkembangannya, dan pertentangan-pertentangan dalam tubuhnya. Buku ini dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa dan cerdik pandai untuk memahami seluk-beluk dan keragaman Amerika Serikat secara mendalam.

Di balik patriotisme masa kini yang menyadari karakter bangsa Amerika terdapat keragaman kebudayaan yang bercirikan Amerika. Kebudayaan Amerika, sebagaimana dikatakan oleh Luedtke dalam buku ini, adalah kebudayaan yang muncul dari saling hubungan antara Benua Lama (Eropa) dan Benua Baru (Amerika). Kemenangan kerajaan Inggris atas pengaruh kerajaan-kerajaan Eropa lainnya di Amerika telah memunculkan kebudayaan Amerika yang pada dasarnya adalah kebudayaan Inggris yang beradptasi dengan lingkungan di Amerika, yang kemudian bercampur dengan berbagai unsur kebudayaan lainnya yang dibawa oleh berbagai pendatang dari seluruh dunia. Buku ini adalah sebuah kumpulan tulisan yang terfokus pada upaya untuk memperlihatkan pembentukan masyarakat dan kebudayaan Amerika, dan lebih khusus lagi terbentuk dan berkembang serta mantapnya corak karakter bangsa Amerika.

INFO BUKU

Judul: Mengenal Masyarakat dan Kebudayaan Amerika Serikat Jilid II
Penulis: Luther S. Luedtke
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Edisi/Tahun: 1994
Halaman: 343
Dimensi: 14.6 x 21 x1.7 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Bekas
Harga: Rp. 15.000
Call No: 973/Lue/m

MENEMBUS BATAS, Liem Siok Lan

Manusia dikelompokkan dalam kategori “pemenang” (winner) dan “pecundang” (loser). Keduanya memiliki idiom masing-masing. Dalam beberapa hal, seseorang bisa selalu menjadi pemenang, sementara pada saat sama, orang lain selalu tidak memiliki kesempatan untuk menang. Ini soal sikap hidup. “Pecundang selalu melihat masalah dalam setiap peluang, sementara pemenang selalu melihat peluang dalam setiap masalah”. (Thaksin Shinawatra).


INFO BUKU

Judul: Memikir Ulang Regionalisme, Sumatera Barat Tahun 1950-an
Penulis: Liem Siok Lan
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Edisi: 2008
Halaman: 419 halaman
Dimensi: 15 x 23 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 95.000
Call No: 154/Lan/m

POLITIK TIGA WAJAH, M.D. La Ode

Buku Politik Tiga Wajah ini merupakan hasil observasi dan studi mendalam tentang keberadaan etnis Cina-Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Dewasa ini, etnis Cina-Indonesia sudah menyebar ke seluruh sudut kota di daerah Kalimantan Barat. Keadaan ini terwujud menjadi mekanisme aliran perekonomian yang sangat efektif bagi pelaku ekonomi intern etnis Cina-Indonesia. Disamping itu, pribumi suku bangsa Dayak-Melayu kurang memahami maksud-maksud strategi mekanisme ekonomi yang ditebar oleh etnis Cina-Indonesia di Kalimantan Barat. Sedangkan, tujuan dan diterapkannya mekanisme strategi ekonomi seperti itu ialah untuk melimpuhkan dinamisme kekuatan ekonomi pribumi suku bangsa Dayak-Melayu. Selain itu, juga bertujuan untuk meng-cover wilayah Kalimantan Barat.

Awal ketertinggalan ekonomi pribumi suku bangsa Dayak-Melayu dari etnis Cina-Indonesia, ialah diambilalihnya komoditi 9 (sembilan) bahan pokok keperluan sehari-hari oleh etnis Cina-Indonesia. Pada dasarnya, komoditi tersebut adalah hak dan kewajiban pribumi suku bangsa Dayak-Melayu untuk memperdagangkannya sepanjang masa. Kondisi yang sama juga berlaku bagi etnis Cina-Indonesia. Tetapi, bukan terdapat atau berlaku di Indonesia, melainkan terdapat dan berlaku di negeri Cina Daratan. Sedangkan di Indonesia, etnis Cina-Indonesia hanya turut mendapat bagian berdasarkan asas, bahwa “We are the great family of men and we are all created by God”. Jadi tidak hanya dimensi persamaan status, tetapi juga perbedaan predikat yang harus ditaati secara rasional dan metarasional.

Penyelesaian masalah kontradiksi/antagonis sikap dan perilaku antara etnis Indonesia dengan etnis Cina-Indonesia, hanya bisa ditempuh melalui jalur primordialisme-integralistik yang faktor-faktornya adalah Amalgamasi Biologis, asimilasi sosial-budaya, adaptasi sosial dan ekonomi bersama antara kedua belah pihak.

Meski menggunakan hasil amatan empiris dan studi pada tahun 1997, namun penulis berhasil menganalisis sejumlah isu strategis relasi etnis Dayak dan Melayu dengan etnis Cina-Indonesia. Penjelajahan intelektualnya melacak jejak, memetakan tipe sikap, politik dan strategi, dan perilaku pengusaha etnis Cina-Indonesia.


INFO BUKU

Judul: Politik Tiga Wajah
Penulis: M.D. La Ode
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Edisi: 2013
Halaman: xxvi+412 halaman
Dimensi: 16 x 24 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 125.000
Call No.: 320/Ode/p

Jual Buku The Sane Society, Erich Fromm

In The Sane Society Dr. Fromm offers for the first time a complete and systematic exploration of his humanistic psychoanalysis. In doing so, he counters the profound pessimism for our future that Freud expressed in his CIVILIZATION AND ITS DISCONTENTS.

THE SANE SOCIETY is a critical evaluation of the effects of contemporary Western culture on the mental health and sanity of the people living under our system. Dr. Fromm examines our plight in a society whose main concern is economic production instead of increased productivity- a society in which man has lost the dominant place. Modern man, he declares, has been alienated from the world he has created... from his fellow man from the things he uses and consumes, from his government, from himself. "THE SANE SOCIETY is a courageous book with a high moral objective...an unflicting indictment of contemporary society."

INFO BUKU

Judul/Title: The Sane Society
Penulis/Author: Erich Fromm
Penerbit/Publisher: Fawcett Publication
Edisi/Edition: 1955
Halaman/Pages: 198
Dimensi/Dimension: 16 x 24 x 1cm
Sampul/Cover: Soft Cover
Bahasa/Language: English
Harga/Price: Rp. 49.000
Call No.: 150/Fro/s
Status: Ada/Available

Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?, Dr. Kartini Kartono

Judul/Title: Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?
Penulis/Author: Dr. Kartini Kartono
Penerbit/Publisher: Rajawali Press
Edisi/Edition: 2005
Halaman/Pages: 362
Sampul/Cover: Softcover
Bahasa/Language: Indonesia
Harga/Price: 70.000
Status: Ada/Available

***

There are no bad soldier, only bad officer. Frasa metaforik Napoleon tersebut memiliki makna "bersayap" bahwa suatu kelompok organisasi baik swasta maupun pemerintah, keberhasilannya berada pada pemimpin

dan kepemimpinannya. Sementara itu, bawahan merupakan "perpanjangan" pelaksanaan ide, strategi, dan kebijakan pemimpin. Beberapa persyaratan bagi pemimpin yang handal diantaranya adalah adil, bijaksana serta penuh rasa kemanusiaan, tidak egoistis, tidak overambisius, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak gila kekuasaan.

Di pihak lain, pemimpin yang abnormal yang mempunyai sifat inferior misalnya, akan berdampak pada penyimpangan-penyimpangan tingkah laku atau psikologis, mungkar, dan penyimpangan-penyimpangan sosial pada anggota-anggotanya. Namun untuk beberapa kasus abnormalitas -pada karakter mereka- tidak selalu merupakan "bayangan gelap" bagi dirinya dan anggota-anggotanya. Apabila abnormalitas sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi pada masanya. Contoh kasus Ford dan Mao Tse Tung yang selalu didera obsesi, namun mereka bisa membangun karya besar di bidang bisnis dan ketatanegaraan.

Buku pemimpin dan kepemimpinan ini dapat dijadikan buku wajib bagi calon-calon pemimpin, baik itu mahasiswa yang sedang berpose membentuk diri menjadi calon-calon pemimpin ataupun para pekerja yang sedang melangkah menuju jenjang karier. Termasuk juga mereka yang sedang duduk di kursi kepemimpinan, dapat menjadikan buku ini sebagai rujukan dalam mengelola kepemimpinan lebih baik lagi. Buku ini tidak sekedar memberikan, konsep, teori, ciri, model, tipe, dan contoh pemimpin dan kepemimpinan. Lebih jauh lagi buku ini memberikan jalan terang menuju kepemimpinan dan menjadi pemimpin yang berhasil.

Patologi Sosial, DR. Kartini Kartono

Judul/Title: Patologi Sosial
Penulis/Author: Dr. Kartini Kartono
Penerbit/Publisher: Rajawali Press
Edisi/Edition: 2011
Halaman/Pages: 342
Sampul/Cover: Softcover
Bahasa/Language: Indonesia
Harga/Price: Rp. 65.000
Status: Ada/Available
***

Masyarakat modern yang serba kompleks akibat kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, urbanisasi, dan yang terakhir akibat krisis, memunculkan banyak masalah sosial. Oleh karena itu, adaptasi atau penyesuaian diri seseorang dalam kehidupan masyarakat modern yang hiperkompleks itu menjadi tidak mudah. Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan berbagai konflik baik yang terbuka maupun yang tersembunyi, secara eksternal maupun internal. Dengan demikian, banyak orang mengembangkan pola tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum atau berbuat semau sendiri, demi kepentingan sendiri, dan merugikan orang lain. Gejala-gejala sosial yang dianggap "sakit" itulah yang menjadi bahan kajian dalam Patologi Sosial atau "penyakit masyarakat" ini.

Secara umum buku ini menjelaskan tentang patologi sosial dan masalah sosial yang terjadi akibat diferensiasi dan deviasi. Kedua hal itu memunculkan berbagai penyakit masyarakat, antara lain individu sosiopatik, perjudian, korupsi, kriminalitas, pelacuran dan mental disorder. Kelima jenis penyakit tersebut dibahas secara detail dalam buku ini, mulai dari pengertian, jenis, sebab-sebab, akibat-akibat, serta saran-saran untuk menanggulanginya.