Search This Blog

Showing posts with label BUKU SENI PERTUNJUKAN. Show all posts
Showing posts with label BUKU SENI PERTUNJUKAN. Show all posts

SEMIOTIKA, Nur Sahid

Pertunjukan teater, tari, wayang purwa, film, dalam konteks semiotika adalah hamparan tanda-tanda, sehingga teks yang hadir dalam beberapa kesenian itu merupakan sekumpulan utuh tanda-tanda.
Tubuh aktor, penari, boneka wayang merupakan tempat paling sentral dalam menciptakan sistem tanda, sebab terdapat 8 sistem sekaligus yang melekat pada diri aktor, yakni sistem tanda kata, mimik, make-up, tata rambut, dan kostum. Lima sistem tanda lainya ada di luar aktor, yakni sistem tanda setting, tata cahaya, musik, bunyi, dan prop (Tadeuz Kawzan).

Buku Semiotika ini sangat membantu saya saat menganalisis maka sebuah pertunjukan teater. sebab pendekatanya semiotika teater yang disajikan dalam buku Semiotika ini cukup sistematis, mudah dipahami, dan mudah diterapkan dalam fenomena teater rakyat maupun teater modern.
(Deden Haerudin S.Sn., M.Sn - Dosen teater, Universitas Negeri Jakarta, Kandidat Doktor kajian Seni Teater, ISI Yogyakarta)

Harus diakui bahwa teater berbeda dengan film dan TV play. Namun sebagai sesama genre seni naratif, sistem tanda teater banyak mirip dengan sistem tanda film. Ini tampak pada sistem tanda kata, mime, gesture, lighting, musik, sound effect, nada, kostum, prop, gaya rambut, make up, dll. Karena itu buku Semiotika ini cukup relevan dalam proses penciptaan tanda maupun kajian tanda-tanda film itu sendiri.
(Dr. Koes Yuliadi M.Hum - Dosen kuliah "Drama Televisi" dan "Penulisan Skenario", ISI Yogyakarta)

Semula saya ragu, tapi setelah membaca secara menyeluruh akhirnya saya mengerti arti penting buku Semiotika ini untuk mengkaji makna-makna dalam pertunjukan wayang purwa.
(Dr. Sugeng Nugroho M.Sn - Dosen Jurusan Seni Pedalangan ISI Surakarta)

Tanda-tanda dalam seni teater mirip dengan sistem tanda tari. Ini tampak pada sistem tanda kata, mime, gesture, gerak, lighting, musik,, sound effect, nada kostum, prop, gaya rambut, mike up, dan setting yang mirip dengan tanda-tanda dalam seni tari. Karena itu, saya sangat terbantu oleh buku Semiotika ini saat mengkaji tanda-tanda dalam pertunjukan tari.
(Dr. Agus Cahyono M.Hum - Dosen Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang)

INFO BUKU

Judul : Semiotika
Penulis : Dr. Nur Sahid M.Hum
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri
Edisi:
Halaman:
Ukuran: 14 x 21 x 1. cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 67.000
Call No: 790/Sah/s
LIHAT BUKU SENI LAINYA >>

SMA K1. 10 SENI TARI & SENI MUSIK 1 SSI 2006, Astono

SMA K1. 10 SENI TARI & SENI MUSIK 1 SSI 2006
Apresiasi yang tinggi seni membutuhkan rasa simpati dan pemahaman. Suatu karya seni tidak dapat diperlakukan sebagaimana jenazah yang menunggu otopsi. Karya seni tidak bisa selalu dipenggal-penggal sehingga kita ditinggalkan hanya dengan bagian-bagiannya secara... Read More

INFO BUKU

Judul : Sma Kl.10 Seni Tari & Seni Musik 1 Ssi 2006
Penulis : Astono
Penerbit: Gramedia
Edisi: 2004
Halaman: 119
Ukuran : 19 x 25.5 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 35.000
Call No:

METODE KELAS MUSIK, Pono Banoe

Pendidikan musik harus lebih berfungsi, maka pertama-tama pendidikan musik yang berlangsung di sekolah-sekolah harus lebih diperhatikan; sehingga semua sekolah baik yang bersifat umum maupun yang bersifat kejuruan, sepatutnya mendapat pendidikan musik sejak dari Taman Kanak- Kanak hingga perguruan tinggi.

Bila pendidikan musik diberikan sejak Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi dengan porsi 2 jam pelajaran per minggunya, setidak-tidaknya mereka akan lebih tertarik akan masalah musik. Dalam hal ini di sekolahsekolah guru harus lebih banyak memberikan latihan-latihan musik, baik yang bersifat teoretis, maupun yang bersifat praktis. Anak-anak sekolah perlu mendapat bimbingan dan pelajaran main suling, harmonika, biola, piano, gamelan, angklung dan sebagainya.

Pelajaran musik yang bersifat vokal dan instrumental harus lebih diperhatikan. Dan bagi anak-anak yang berbakat musik dapat melanjutkan pelajarannya ke sekolah musik, yang khusus ditujukan untuk mengembangkan bakat anak itu. Di Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi, pendidikan musik harus merupakan pendidikan yang bersifat pembentukan umum ke arah musik. Dasar-dasar yang fundamental musikal perlu diberikan kepada anak-anak, sehingga mereka mempunyai apresiasi musikal yang memadai.

Isi buku ini: (1) Aspek Sosial Pedagogis dalam Pedagogi Musik, (2) Pendidikan Musik dalam Sejarah dan Sistem pengajaran, (3) Pendidikan Estetika dan pendidikan Musik dalam Sejarah, (4) Sistem dan Metode Pengajaran Musik, (5) pendidikan Musik dalam Sistem Pengajaran Modern, (6) Aspek Sosial Psikologis dan Pedagogis, (7) Pengajaran Musik Praktis di Indonesia, (8) Tinjauan Teknis Musik dalam pengajaran, (9) Pendidikan Musik Formal di Indonesia, (10) Metode Pengajaran Musik Praktis Dr. Pono Banoe, (11) Materi pengajaran Musik Luar Sekolah, (12) Lembaga Pendidikan Kejuruan Guru Musik Dr. Pono Banoe.

INFO BUKU

Judul: Metode Kelas Musik
Penulis: Dr. Pono Banoe
Penerbit: Indeks
Edisi: 2003
Halaman: 108
Ukuran: 15 x 21cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 32.000 Rp. 28.160
Call No:

SID VICIOUS BINTANG ROCK N ROLL, Malcolm Butt

Sid Vicious; Bintang Rock ‘N Roll merupakan salah kisah paling sensasional dalam sejarah musik, dituturkan dengan pengetahuan orang dalam. Malcolm Butt menyingkapkan degradasi masa kecil bagi Sid Vicious sebagai anak tunggal seorang pecandu alkohol, perkenalkannya dengan Sex Pistols, eksponen utama punk. Yang mendepak Glen Matlock sebagai pemain bass grup tersebut(mungkin karena permainan bass Sid Vicious bahkan lebih buruk), obsesinya dengan kekerasan dan mutilasi-diri, kemerosotannya yang cepat ke dalam dunia paranoia bujuk rayu heroin dan delusi diri. Dua puluh satu tahun yang singkat dari kehidupan Sid Vicious diurutkan secara historis dalam buku ini. Sehingga memperlihatkan segala hal yang membusuk dalam dunia rock. Sid Vicious melakoni jalannya sendiri, dan sebagaimana diperlihatkan oleh buku ini, satu-satunya jalan adalah menyudahi hidupnya.

INFO BUKU

Judul: Sid Vicious Bintang Rock 'n' Roll
Penulis: Malcolm Butt
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2009
Halaman: 204
Ukuran: 15 x 21cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 38.000 Rp. 31.000
Call No:

REVOLUSI INDIE LABEL, Jube

Fenomena musik Indie seperti punk, hardcore, death metal, britpop, dan indiepop di Indonesia menciptakan subkultur baru bagi anak muda untuk mengekspresikan dirinya melawan budaya pop. Banyak band terkenal di Indonesia mengawali dari indie label, seperti Pas, Naif, Netral, Koil, Shaggydog. Buku ini mengulas tuntas fenomena tersebut.

INFO BUKU

Judul: Revolusi Indie Label
Penulis: Jube
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2008
Halaman:
Ukuran: 13 x 20cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 38.200 Rp. 31.000
Call No:

BIOGRAFI GUNS N ROSES BAND YANG DILUPAKAN WAKTU, Paul Steaning

Band yang Dilupakan Waktu menelaah fenomena Guns N Roses tersebut dan dengan mengeksplorasi tahun-tahun paling awal dari para pemain utama band tersebut, buku ini menemukan akar huru-hara yang terjadi. Sebelumnya, tak ada satu buku pun yang membahas band luar biasa ini dengan menelisik begitu menyeluruh ihwal proses kimiawi yang merubah sekelompok anak muda dengan gairah akan music menjadi lambang Rock N’ Roll.

INFO BUKU

Judul: Biografi Guns N Roses Band Yang Dilupakan Waktu
Penulis: Paul Steaning
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2009
Halaman: 340
Ukuran: 15 x 21cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 55.000 Rp. 47.000
Call No:

PERGELARAN SEBUAH MOZAIK PENELITIAN SENI BUDAYA, Leno Simatupang

Perkembangan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan berhubungan secara dialektis dengan perubahan realitas material, praktik, maupun pergaulan umat manusia yang didorong oleh faktor-faktor yang berada di luar wilayah akademis. Di dalam ranah akademis sendiri, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang lewat penambahan objek kajian dengan hal-hal yang sebelumnya belum dipertanyakan, lewat penerapan perspektif baru terhadap objek kajian yang sama, atau gabungan keduanya. Tersirat di dalam pernyataan itu, bahwa pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dicapai lewat penelitian.

Gerak dinamis serupa ini terjadi pula dalam disiplin keilmuan yang menempatkan seni sebagai objek kajiannya. Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar mengenai pergeseran perspektif yang terjadi dalam kajian seni. Pembahasan akan difokuskan pada munculnya kecenderungan pendekatan yang memberi penekanan pada pergelaran (performance) – atau yang sering dikenal sebagai performance centered approach. Pada beberapa bagian akan dipaparkan secara singkat tentang pemikiran fenomenologi – aliran filsafat yang melatarbelakangi munculnya pergeseran pendekatan tersebut.

Buku ini menyajikan bagaimana perspektif fenomenologi memberi pengaruh pada minat antropologi untuk meneliti perihal pengalaman. Buku ini juga membahas pendekatan yang terpusat pada pergelaran; termasuk keterkaitan antara performance centered approach ini dengan metode etnografi.

Pengantar Editor

Strategi Membaca ‘Pergelaran,’ Seorang Antropolog, dan Sebuah Mozaik Penelitian
Dede Pramayoza

Strategi Membaca ‘Pergelaran’ dan Seorang Antropolog
Dewasa ini perspektif performance studies semakin sering digunakan dalam telaah-telaah seni pertunjukan (teater, tari, dan musik) di Nusantara. Indikasinya adalah semakin banyak yang menggunakan semiotika, antropologi, kajian lisan—beberapa disiplin yang turut membangun performance studies— sebagai piranti analisisnya, yang dikombinasikan dengan estetika, koreologi, dramaturgi, dan musikologi. Meski tidak persis sama, namun dapat dikatakan bahwa belakangan ilmu-ilmu seni pementasan dan pertunjukan ditantang oleh kehadiran performance studies, sebagaimana ilmu-ilmu sosial ditantang oleh kehadiran cultural studies. Tantangan itu mengemuka, karena pada saat yang sama, peneliti seni harus tetap terus menguraikan gejala-gejala kesenian yang ada di sekeliling mereka dengan piranti yang mutakhir, salah satunya dengan menggunakan ‘kacamata’ performance studies. Sementara, performance studies itu sendiri harus terus diraba dan ditata pula, untuk menemukan format yang pas bagi struktur kekinian dan “ke-di-sini-an” kita.

Namun demikian, belum banyak referensi ‘berbahasa’ Indonesia perihal performance studies ini. Salah satu—kalau bukan satu-satunya—pengantar yang cukup baik adalah artikel Sal Murgiyanto berjudul “Tentang Kajian Pertunjukan” yang dipublikasikan sekitar 14 tahun yang lalu. Melalui uraiannya, dapat dilihat bagaimana ilmu-ilmu seni (musikologi, kajian tari, kajian teater) di satu titik dan antropologi di titik lain saling mendekati dan bertemu dalam suatu kajian inter-disiplin (etnomusikologi, etnologi tari, dan performance studies). Secara dramatis, Sal Murgiyanto menggambarkan hal itu dalam perjalanan dua orang –meminjam istilah Sal Murgiyanto sendiri—‘tokoh terkemuka’ performance studies, yaitu Victor Turner (antropolog) dan Richard Schechner (praktisi seni). Artinya, Sal Murgiyanto secara sengaja atau tidak telah menggarisbawahi ‘tanggung jawab’ antropologi bagi pertumbuhan performance studies. Sementara itu, dalam satu refleksinya kemudian, Sal Murgiyanto mengatakan pula bahwa merespons pertumbuhan performance studies itu: “... di Indonesia, disiplin Etnomusikologi paling awal dibuka dan baru menyusul ... antropologi tari. Sementara perhatian para ahli teater terhadap studi antropologi belum nampak.”

Membaca uraian Sal Murgiyanto membuat saya bersama beberapa teman yang sama-sama bergiat di teater mulai ‘terusik’ oleh performance studies, sekitar tahun 2006. Bersama perkenalan itu, dua pertanyaan kemudian timbul pula: pertama, jika Sal Murgiyanto sendiri adalah pakar ilmu seni pertunjukan di Nusantara yang punya ketertarikan terhadap performance studies, siapa antropolog yang bisa dianggap mewakili kecenderungan ini? Kedua, mengapa pula ‘para ahli teater’—jika benar sinyalemen Sal Murgiyanto— sepertinya tidak tertarik dengan perspektif ini? Sama-sama berkecimpung di ranah teater dan sama-sama pula terlibat dengan ‘euforia’ performance studies, saya dan teman-teman panitia pada sebuah Seminar Teater di Jurusan Teater ISI (waktu itu masih STSI) Padangpanjang, kemudian mengundang Lono Simatupang—seorang antropolog yang kami kenal menggemari dunia kesenian—pada medio 2009, agar perspektif antropologi bagi performance studies itu bisa pula kami ‘raba’. Dan benar saja, makalah yang disajikan Lono Simatupang terlihat jauh berbeda dengan pemakalah lainnya. Saat semua pemakalah larut dalam pembicaraan yang ‘teater-sentris,’ Lono Simatupang malah bicara “penonton pergelaran.” Ia membuka tulisannya dengan sebuah pernyataan yang cukup provokatif, bahwa “... ternyata tidak semua yang kita tonton adalah tontonan ...” Dengan pernyataan itu, Lono Simatupang mengajak partisipan seminar membaca ulang ‘tontonan’ atau yang kemudian ia namakan ‘pergelaran.’

Mempertanyakan hal-hal yang selama ini cenderung tidak lagi dipertanyakan, Lono Simatupang menantang wawasan para partisipan seminar waktu itu tentang kemungkinan perluasan dan pengembangan kajian seni. Misalnya, tentang penonton: bagaimanakah penonton harus disikapi; siapakah yang dapat dinamakan penonton itu; apa peran penting penonton bagi pementasan; seberapa jauh penonton dapat memengaruhi pementasan; dan seterusnya. Bukannya tidak pernah terpikirkan, namun ‘kajian penonton’ dalam diskursus teater Nusantara adalah ihwal yang tetaplah ‘samar-samar’ kalau tidak harus dikatakan ‘gelap.’ Lagipula, ‘penonton pergelaran’? Apa pula itu ‘pergelaran’?

Seorang Antropolog dan Kajian Seni: ‘Kajian Pergelaran’
Diskursus semacam itulah yang kemudian membawa saya dan beberapa teman mulai ‘membaca’ Lono Simatupang, dan bersama itu berharap bisa membaca pertumbuhan performance studies di Nusantara secara lebih lengkap dan jauh. Tanpa sengaja, terkumpul pulalah di hardisk komputer masing-masing beberapa artikel Lono Simatupang yang kami anggap relevan. Kesempatan untuk tujuan itu semakin terbuka lebar, ketika kami punya kesempatan bertemu Dr. Lono Simatupang, M.A. di Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa-UGM. Di kelas (antara lain: metode etnografi, antropologi seni, dan komunikasi seni), kami bisa berdiskusi dengan ‘Pak Lono’ perihal seni dari pelbagai perspektif. Dari situ pula kemudian terbuka pemahaman tentang sumbangan antropologi bagi kajian seni. Namun sumbangan itu mensyaratkan seseorang yang punya ‘kecintaan’ tersendiri terhadap ‘jagad seni’. Minimal, seorang pengamat budaya yang meyakini bahwa dunia kesenian adalah aspek yang cukup penting dari keseluruhan kebudayaan, bukan saja karena kesenian menjadi representasi dari kondisi terkini kebudayaan, namun juga karena aspek-aspek kreatifnya, yang berpotensi menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan etos dan budaya, sebagaimana oleh Milton Singer—dikutip dari Marvin Carlson—dijelaskan sebagai ‘pertunjukan budaya’ (cultural performance).

Pada tataran inilah, posisi Lono Simatupang saya pandang cukup signifikan bagi pertumbuhan kajian seni secara umum, dan performance studies di Indonesia khususnya. Kecenderungannya untuk memilih praktik seni sebagai objek kajian, menjadi jaminan bagi tersedianya telaah-telaah antropologis—bahkan kajian budaya (cultural studies)—bagi praktik seni di Indonesia, yang pada momentumnya kelak akan menjadi bahan-bahan berharga bagi konstruksi performance studies atau—dalam ‘bahasa’ Lono Simatupang sendiri—tumbuhnya ‘kajian pergelaran’ di Indonesia. Artinya, bukan tanpa kebetulan bahwa meski ia berangkat dari disiplin antropologi, namun Lono Simatupang cenderung memilih objek seni sebagai bahan amatannya. Tidak tanggung-tanggung, hal itu terekspresikan dalam dua tulisan yang saya kira adalah pertaruhan kualifikasi akademiknya, yaitu “Dangdut” untuk tesis M.A., dan “Reyog Ponorogo” untuk disertasi Ph.D.-nya. Semua itu semakin dimungkinkan karena Lono Simatupang dalam kesehariannya adalah seorang pengajar dan peneliti yang senantiasa berjalan ulang-alik di ketiga ranah itu: seni, antropologi, dan cultural studies sehingga ia punya kesempatan untuk berefleksi atas pelbagai konsep dari masing-masing disiplin, untuk selanjutnya memproyeksikannya pada disiplin lain.

Perjalanan ulang-alik pada ketiga ranah tersebut, dengan demikian, saya yakini telah menjadi kendaraan bagi Lono Simatupang untuk mengonstruksi tinjauan-tinjauan yang lintas-disiplin, seperti yang terlihat dalam pelbagai artikelnya. Kajian seni yang secara umum cenderung bertanya tentang apa dan bagaimana dikombinasikannya dengan tinjauan antropologi dan budaya yang, sebaliknya, cenderung mempertanyakan perihal mengapa. Hasilnya adalah tinjauan-tinjauan yang multi-perspektif, seperti yang selalu diulang-ulang Lono Simatupang dan sedikit banyak merefleksikan ideal type-nya tentang kajian seni, suatu tinjauan ‘teks dan konteks’ sekaligus. Suatu kualitas tinjauan yang tidak saja menunjukkan bagaimana ‘seni’ dikonstruksi dengan menerapkan apa yang disebut Alfred Gell sebagai ‘teknologi pesona’ (the technology of enchantment), namun juga bagaimana seni berkontribusi di tengah masyarakat sebagai suatu medium berefleksi atas keseharian, atau meminjam istilah Saini K.M, suatu ‘ritus,’ yaitu upacara milik bersama masyarakat di mana nilai-nilai bersama dikontestasikan dan akhirnya dikukuhkan kembali.

Berdasarkan pengertian semacam itu, ‘pergelaran’ bukan saja dipahami sebagai melulu peristiwa yang ‘disengaja’ namun juga pelbagai peristiwa yang dapat ‘tergelar’ begitu saja dalam kehidupan sehari-hari dalam pelbagai situasi. Artinya, ‘seni pergelaran’ (performance art), termasuk teater, pada dasarnya berakar pada ‘drama sosial,’ di mana manusia mengalami situasi dramatis pertama kali, yang kemudian ‘tersangatkan’ (heightened) menjadi pergelaran ‘drama teatrikal.’ Boleh jadi, di titik ini pulalah barangkali dapat terjawab mengapa para ‘ahli teater’ seperti yang dikemukakan Sal Murgiyanto, atau mungkin para peneliti dan pengamat seni secara umum, tidak terlalu tertarik menggunakan perspektif antropologi dan ‘kajian pergelaran’ secara khusus dalam tinjauan-tinjauan mereka. Perkenalan dengan keduanya berpotensi menimbulkan tinjauan-tinjauan yang menipiskan jarak antara seni dengan kehidupan sehari-hari, yang dapat mengancam eksklusivitas kajian seni dan praktik seni itu sendiri. Eksklusivitas, yang justru selama ini menjadi ‘modal budaya’ bagi para penggiat dan pengamat seni dalam percaturan intelektual dan sosial, yang dengan sendirinya menjadi penjamin dari eksistensi para penggiat dan pengamat seni itu sendiri. Secara singkat dapat dikatakan bahwa antropologi dan ‘kajian pergelaran’ akan membongkar perihal koneksitas antara realitas pergelaran dan realitas keseharian yang pada akhirnya akan cenderung merekomendasikan—kalau bukan malah menuntut—dikembalikannya sifat ontologis ‘pergelaran’ tersebut.

Membaca (Buku) Pergelaran sebagai Sebuah Mozaik
Secara singkat, semula sebagian besar tulisan yang terkumpul dalam buku ini dikumpulkan untuk tujuan sendiri. Sebagian di antaranya didapat dari materi diskusi dan seminar, sementara sebagian lainnya dari materi perkuliahan di kelas pengkajian seni. Namun, seiring semakin banyaknya ‘pembaca’ performance studies—setidaknya demikian pembacaan saya akhir-akhir ini—maka kiranya pantas pulalah kumpulan tulisan itu dibukukan dan dipublikasikan secara lebih luas. Bukan saja untuk sekadar menambah referensi, namun yang lebih penting untuk membuka diskusi bagi kemungkinan-kemungkinan perspektif baru kajian perihal praktik seni di Nusantara. Sebagai ‘kumpulan tulisan,’ tentu saja buku ini akan terasa serba menyeluruh sekaligus serba singkat. Namun begitu, ada beberapa ihwal penting yang ditawarkan buku ini yang saya pandang dapat bermanfaat, dan berdasarkan itu saya mencoba menyusunnya dalam sebuah konstruksi yang saya harapkan dapat memudahkan pembaca untuk mengikuti alurnya.

Dengan memahami ‘pergelaran’ sebagai suatu moda komunikasi yang merupakan akumulasi dari konsep-konsep kelisanan, ketubuhan, keindahan, dan pewacanaan, Lono Simatupang mengarahkan sebagian tulisannya pada tinjauan reflektif terhadap konsep, teori, dan metode yang menurutnya bermanfaat jika digunakan dalam tinjauan seni. Tulisan-tulisan tipe ini saya kumpulkan menjadi satu bagian dalam buku ini, dan karena itu saya beri judul “Refleksi: konsep, teori, metode.” Pada bagian ini, terdapat tinjauan terhadap tradisi lisan dan cerita rakyat, sejarah seni, tari dan wacana penubuhan, penonton dan ruang, yang diakhiri dengan rekomendasi Lono Simatupang perihal strategi meneliti seni dengan perspektif fenomenologi, pendekatan yang berpusat pada pergelaran, dan etnografi, serta pemaknaannya atas seni dan estetika dalam perspektif antropologi. Sebelum itu, sebuah tinjauan tentang seni secara umum yang dibuatnya, saya tempatkan sebagai prolog.

Atas dasar direfleksikannya pelbagai konsep, teori, dan metode itu, Lono Simatupang kemudian membangun konsep-konsepnya sendiri dan kemudian menerapkannya dalam memahami gejala-gejala seni yang ia temui. Karena itu, di bagian kedua saya tempatkan artikel-artikel dengan tipe ini, yang saya namakan “Eksplorasi: kelisanan, pergelaran, estetika”. Topik di bagian ini cukup variatif, mulai dari mitos, tradisi lakon, liminalitas pertunjukan, estetika, dan etika, silang-gender, hingga wacana tubuh, dengan subjek antara lain: ketoprak, reyog Ponorogo, dangdut, tokoh “si pandir,” gemblak, topeng dalang Klaten, hingga tato. Bagian kedua ini memperlihatkan konsep-konsep yang dipilih secara selektif oleh Lono Simatupang untuk memahami kesenian, bagaimana ia menggunakannya, dan akhirnya bagaimana ia mencoba membangun pemahaman-pemahaman dari fenomena seni yang ditelitinya itu, yang pada dasarnya dapat disimpulkan dalam satu kata, yakni sebagai ‘pergelaran.’

Namun untuk apakah ‘pergelaran’ dipahami? Lono Simatupang mencoba menjawabnya dengan menerapkan konsep-konsep yang sama untuk melihat sesuatu yang lebih luas, yaitu kebudayaan. Pada bagian ketiga, yang saya namakan “Proyeksi: Warisan, Budaya, ‘Kuasa’” artikel-artikel yang memperlihatkan kecenderungan ini saya satukan. Kota, pusaka Nusantara, adat, tradisi, seni tari, jati diri bangsa, budaya daerah, hingga pariwisata, ia baca laksana ‘pergelaran’; untuk selanjutnya, menggunakan hasil pembacaannya itu untuk merekomendasikan strategi-strategi reinterpretasi, reposisi, revitalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi, hingga pengelolaan dan pengembangan kebudayaan. Maka, melalui bagian ketiga ini tampaklah bahwa Lono Simatupang bermaksud pula untuk secara kritis melihat hubungan antara negara dan kekuasaannya dengan kebudayaan secara luas. Karenanya, sebuah tulisan yang berjudul “Negara, Kebijakan Kebudayaan, Kesenian, dan Pariwisata: Perspektif Antropologi Budaya,” saya letakkan sebagai epilog untuk buku ini.

Secara keseluruhan, apa yang tersaji melalui tulisan-tulisan Lono Simatupang dalam buku ini hampir mencakup semua pendekatan yang oleh Robert Wuthnow (1987)—dikutip dari Elizabeth Bell—direkomendasikan sebagai empat pendekatan kontemporer dalam cultural studies, yang kemudian (ternyata) dapat digunakan pula dalam kajian ‘pergelaran’ yaitu: pendekatan struktural (structural approach); pendekatan dramaturgis (dramaturgical approach); pendekatan institusional (institutional approach); dan pendekatan dialektis (dialectical approach). Pendekatan struktural yang menekankan pencarian atas pola dan aturan yang mengikat kebudayaan sebagai kesatuan, dapat dilihat pada beberapa artikel di bagian pertama dan kedua, antara lain dalam tulisannya tentang: cerita rakyat, musik etnik, reyog, ketoprak, dan topeng dalang. Pendekatan dramaturgis yang berfokus pada aspek ekspresi dan komunikasi suatu kebudayaan (melalui pelbagai bentuk ucapan, tindakan, benda, dan peristiwa), yang menekankan adanya alur dramatik dalam kehidupan sosial, di mana ‘seni pergelaran’, ritual, ideologi-ideologi, dan tindakan simbolik lainnya pada dasarnya mendramatisasikan kualitas hubungan sosial tersebut, tampak dalam sebagian besar artikel di bagian kedua.

Sementara itu, artikel-artikel di bagian ketiga sebagian besar diwarnai oleh pendekatan institusional yang menekankan pentingnya peran organisasi yang mengkonstitusi kesenian, di mana sumber daya dan distribusinya kepada seluruh anggota budaya menghadirkan ‘relasi kuasa’ antara kesenian, negara, pendidikan, lembaga ilmu pengetahuan, dan media massa sebagai agen-agen ‘yang menguasai' dan mendistribusikan pelbagai sumberdaya kebudayaan itu. Sedangkan pendekatan dialektis, dapat dikatakan tersebar hampir di seluruh tulisan, di mana Lono Simatupang kerap kali juga meninjau perihal bagaimana konsumsi budaya, kondisi mental, struktur, penafsiran, kekuasaan, hubungan sosial dan lembaga dikonseptualisasikan, bergerak, dan berubah dalam ‘jagad seni’. Dialektika itu, tampak pula pada tataran bagaimana seni-budaya dipelajari dengan pelbagai disiplin ilmu dan metode. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa tulisan-tulisan Lono Simatupang memperlihatkan keyakinannya untuk mempelajari seni-budaya sebagai hal yang heterogen, dinamis, dan selalu terkontestasikan.

Inilah salah satu ihwal penting yang saya lihat dari tulisan-tulisan yang terkumpulkan dalam buku ini, yaitu bagaimana pelbagai pendekatan dapat dikombinasikan dan saling menguatkan dalam membaca praktik seni-budaya. Meskipun ditampilkan dalam bentuk ‘mozaik,’ namun hal itu justru saya anggap akan menambahkan keindahan tersendiri bagi buku ini, sebab pelbagai warna yang tertampilkan akan menunjukkan betapa luasnya kemungkinan tinjauan terhadap seni. Di samping itu, ‘pergelaran’/ ‘per-gelar-an,’ terma yang digunakan Lono Simatupang dalam buku ini, cukup pantas dipertimbangkan untuk mewakili apa yang hendak diangkut oleh istilah ‘performance’ yang memang tidak terlalu mudah untuk dialihkan ke dalam bahasa kita. Uraian-uraian di buku ini sedikitnya akan memperlihatkan bahwa ‘pergelaran’ (performance) dapat dipahami sebagai “pelbagai proses ketubuhan (the embodied processes) untuk mencipta sekaligus mencerna budaya,” di mana budaya diartikan sebagai pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota dari suatu masyarakat. Lebih jauh, melalui pelbagai artikel di buku ini akan terlihat pula, bahwa ‘kajian pergelaran’ dapat digunakan sebagai cara untuk memahami tindakan keseharian kita secara lebih baik, karena pada hakikatnya dunia keseharian ternyata justru disusun oleh pelbagai modus ‘pergelaran’ itu.

Secara keseluruhan, ‘mozaik’ di buku ini akan memperlihatkan pula konsep-konsep kunci dalam pikiran Lono Simatupang. Hal itu akan terlihat secara eksplisit dalam beberapa tulisan, di mana ia menggunakan konsep dan teori yang sama untuk mendekati fenomena yang berbeda. Atas dasar itu, saya sengaja membiarkan beberapa irisan tetap terlihat, dan menambahkan beberapa indeks dalam tubuh artikel, dengan memberi keterangan dalam tanda kurung yang selain saya gunakan untuk mengingatkan pembaca bahwa ihwal yang bersangkutan telah dibahas pada tulisan lain, juga saya maksudkan untuk menunjukkan pertautan-pertautan pikiran antara tulisan yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, saya harapkan pembaca dapat pula turut menyimak konstruksi pikiran serta ‘cita rasa’ penelitian khas Lono Simatupang seperti yang coba saya lakukan. Di samping itu, bagi para peneliti seni-budaya, cara Lono Simatupang membangun ‘kajian pergelaran’-nya ini, barangkali dapat bermanfaat sebagai inspirasi untuk kemudian mencoba pula berefleksi atas pelbagai pengalaman dan pemahaman masing-masing, untuk selanjutnya merangkainya menjadi ‘strategi’ penelitian sendiri.

Akhir Kata: Perihal Terbitnya Buku Pergelaran
Akhirnya, terbitnya buku Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya yang kini tersaji ke hadapan para pembaca ini saya harapkan dapat memberi sumbangan berharga bagi dunia akademik seni dan budaya, dan ‘jagad seni’ umumnya, terutama sebagai penambah referensi tentang penelitian seni-budaya yang jumlahnya memang belum banyak. Seturut pengetahuan saya, hanya ada dua buku saja yang secara khusus berbicara perihal penelitian seni dalam dua dekade terakhir, yakni buku Metodologi Kajian Tradisi Lisan (1998), di mana tulisan Sal Murgiyanto yang telah saya kutip di awal tulisan ini turut terhimpun; dan buku Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (1999) karangan R.M. Soedarsono. Artinya, lebih dari satu dekade tidak ada lagi buku serupa. Mudah-mudahan buku ini dapat mengisi kevakuman itu, dan yang lebih penting, menunjukkan pula apa yang telah bergeser dan berubah dalam tradisi penelitian seni di Nusantara selama satu dekade awal milenium ketiga ini. Ekspektasi lebih jauh, tentulah agar buku ini dapat mengintroduksi ‘kajian pergelaran’ di Indonesia secara memadai. Jika pun dianggap belum cukup ‘baik’ pun setidaknya akan menjadi satu pijakan yang memadai untuk buku-buku sejenis berikutnya.

Dengan terbitnya buku ini, saya berhutang budi pada banyak pihak. Pertama, tentu saja kepada Lono Simatupang sendiri, yang telah ‘bermurah hati’ mempersilakan saya untuk mengumpulkan tulisan-tulisannya, memberi saya kepercayaan untuk memperlakukan tulisan-tulisannya itu laksana puzzle yang saya utak-atik di sana-sini agar bisa sesuai dengan sebuah plot yang saya bayangkan. Di tengah kesibukannya, Lono Simatupang masih pula bersedia berdiskusi dan memberi masukan bagi editan saya. Kedua, kepada teman-teman di “Minggirans Circle” (Wendi HS, Pandu Birowo, Pak Anas, Pak Indro Moerdisuroso, Wahyu “Gogon” Novianto, Pak Asril Muchtar, dan Lia-Nisaul Aulia), yang dengan caranya masing-masing telah ikut memberi masukan bagi konstruksi buku ini. Ketiga, dan kiranya paling penting, kepada Penerbit Jalasutra, yang telah dengan ‘murah hati’ bersedia menerbitkannya. Di tengah kelangkaan buku tentang seni, kesediaan Jalasutra untuk menerbitkan buku ini kiranya pantas diapresiasi secara khusus. Semua itu hanya dimungkinkan pula melalui ‘kebaikan’ Mbak Sistha Oktaviana Pavitrasari, yang telah memulai membicaraan perihal penerbitan buku ini. Kepada semuanya saya ucapkan terima kasih dan salut.


Tentang Penulis

Lono Simatupang, terlahir di Yogyakarta pada tahun 1960, dengan nama lengkap Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang. Saat ini tercatat sebagai dosen di Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Gelar sarjana Antropologi diperolehnya dari Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1986, sedangkan gelar M.A. dalam Antropologi diperolehnya dari Department of Sociology and Anthropology, Faculty of Arts, Monash University, Australia. Untuk jutraenjang M.A. tersebut ia menyusun tesis berjudul The Development and Meanings of Dangdut: A Study of Indonesian Popular Music. Pada tahun 2004 ia memperoleh gelar Doktor dalam Antropologi dari Sydney University, Australia, dengan disertasi berjudul Play and Display: An Ethnographic Study of Reyog Ponorogo in East Java, Indonesia.

Sejak 1997 ia mengampu mata kuliah yang terkait dengan perspektif antropologis terhadap seni; baik pada jenjang S-1, S-2, maupun S-3 di Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, UGM, maupun di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa serta Program Studi Kajian Budaya dan Media – keduanya di Sekolah Pascasarjana, UGM. Sejak 2005 ia juga mengajar sebagai dosen tamu di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta untuk mata kuliah Metode Penelitian.


INFO BUKU

Judul: Pergelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya
Penulis: Leno Simatupang
Penerbit: Jalasutra
Edisi:
Halaman: 312
Ukuran: 15 x 23 cm
Sampul : Soft Cover
Kondisi : Buku Baru
Harga : Rp. 63.000 53.500
Call No:

RIAS PENGANTIN GAYA YOGYAKARTA (Edisi Biasa), Marmien Sarjono Yosodipuro

Seni Paes merupakan salah satu cabang seni peninggalan leluhur kita yang sangat adiluhung dan tinggi nilainya. Setiap daerah mempunyai tatanan busana dan upacara yang berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki keagungan, keunikan dan keindahannya sendiri. Salah satu kekayaan bangsa tersebut adalah upacara perkawinan Adat Jawa Gaya Yogyakarta. Buku yang ditulis seorang pakar rias pengantin ini dapat dijadikan pegangan/pedoman bagi para perias pengantin serta peminat rias pada umumnya. Di samping bernilai budaya tinggi juga cukup baik dijadikan referensi atau bacaan bagi masyarakat luas, khususnya para pemerhati budaya tradisional tata rias pengantin.

INFO BUKU

Judul : Rias Pengantin Gaya Yogyakarta (Edisi Biasa)
Penulis : Marmien Sarjono Yosodipuro
Penerbit: Kanisius
Edisi: 1996
Halaman : 136
Ukuran: 220 x 205 mm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 65.000 55.200

TATA RIAS PENGANTIN YOGYAKARTA: BERKEERUDUNG TANPA PAES, Bawoek Sumiyati

Menyajikan uraian mengenai Tata Rias Pengantin Yogyakarta Ber-ke-rudung Tanpa Paes, dan pemba-hasan rangkaian upacara per-kawinan. Rang-kaian upacara perkawinan meliputi nontoni, lamaran dari pihak pria, jawaban dari pihak calon pengantin putri, peningsetan. Diuraikan juga mengenai upacara adat Perkawinan Gaya Yogyakarta dengan segala upacara dan sesajinya mulai upacara tarub, nyantri, sir-aman, ngerik, midodareni, dan upacara panggih. Kami sajikan pula uraian mengenai cara merias wajah pengantin putri, tata cara menge-na-kan sanggul dan perhiasan sanggul untuk pe-ngantin putri berkerudung tanpa paes, dan cara merias wajah dan cara mengena-kan busana pengantin pria. Pada bab selanjutnya dibahas menge-nai cara-cara pem-buatan tasbih, roncen setengah bawang se-bungkul dan cara-cara merangkainya, serta uraian singkat perihal arti dan makna simbol-simbol yang ban-yak terdapat dalam upacara tersebut.

INFO BUKU

Judul : Tata Rias Pengantin Yogyakarta: Berkerudung Tanpa Paes
Penulis : Bawoek Sumiyati
Penerbit: Kanisius
Edisi: 2008
Halaman : 68
Ukuran: 220 x 205 mm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 58.000 49.300

TATA RIAS PENGANTIN YOGYAKARTA: KASATRIAN AGENG SELIKURAN & KASATRIAN AGENG, Tienuk Rifki

Buku ini menyajikan uraian mengenai Tata Rias Pengantin Gaya Yogyakarta Kasatrian Ageng Selikuran, dilanjutkan pembahasan mengenai Tata Rias Pe-ngan-tin Gaya Yogyakarta Kasatrian Ageng. Rangkaian upacara perkawinan meliputi nontoni, lamaran dari pihak pria, jawaban dari pihak calon pengantin putri, pe-ningsetan. Uraian mengenai upacara adat Perkawinan Gaya Yogyakarta dengan segala upacara dan sesajinya mulai upacara tarub, nyantri, siraman, ngerik, midadareni, dan upacara panggih disajikan pada Bab II. Pada Bab III dibahas mengenai tata rias pengantin Gaya Yogyakarta dan perlengkapannya, lengkap dengan cara-cara pembuatan dan pemakaiannya. Sedangkan uraian mengenai berbagai upa-cara khusus yang berkaitan dengan upacara perkawinan, perawatan tubuh, anyaman dasar kembar mayang, roncen dan cara-cara merangkainya, serta uraian singkat perihal arti dan makna simbol-simbol yang banyak terdapat dalam upa-cara dan tata rias Pengantin Gaya Yogya-karta disajikan pada Bab IV.

INFO BUKU

Judul : Tata Rias Pengantin Yogyakarta: Kasatrian Ageng Selikuran & Kasatrian Ageng
Penulis : Tienuk Rifki
Penerbit: Kanisius
Edisi: 2008
Halaman : 84
Ukuran: 220 x 205 mm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 63.000 53.500

SONG FROM TAIZE: INSTRUMENTS PARTS, Community Of Taize

Berisi kumpulan partitur musik (instrumental) yang mengiringi lagu-lagu dari Taize. Digunakan untuk berbagai alat musik sesuai dengan kebutuhan. Partitur sudah dilengkapi dengan akord musik yang diperlukan untuk memudahkan pengguna, termasuk para pemula sekalipun.

INFO BUKU

Judul : Song from Taize: Instruments Parts
Penulis : Community Of Taize
Penerbit: Kanisius
Edisi: 2009
Halaman : 208
Ukuran: 210 x 297 mm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Harga: Rp. 135.000 114.700

THOROUGHLY MODERN MILLIE, Ricard Morris


Title/Judul: Thoroughly Modern Millie
Writer/Penulis: Ricard Morris
Publisher/Penerbit: A Bantam Book
Edition/Edisi: 1967
Pages/Halaman: 117
Dimension/Dimensi: 19x 13x 0.8cm
Cover/Sampul: Softcover
Language/Bahasa: English
Call No.: 920/Mor/T/C.1
Status: Sold/Terjual

***

The warm, wacky exploits of the fearless young lady from Kansas Who set out to see the world in the riproaring Twenties. With high spirits and one of those new high hemlines, she came to New York to test the "modern" ideas she had read about back in Kansas ...

MEN-"I'm your equal now. No fluff and frills. I'm going to meet you on your own terms."

LIFE-"Raw and real. The way it is in the movies."

LOVE-"I've taken the girl out of Kansas. Now I have to take the Kansas out of the girl."

JAPANESE FILM DIRECTORS, Audie Bock

Judul/Title: Japanese Film Directors
Penulis/Author: Audie Bock
Penerbit/Publisher: Kodansha International LTD
Edisi/Edition: II/1990
Halaman/Pages: 378
Dimensi/Dimension: 15 x 21 x 3 cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Harga/Price: Rp.100.000,-
Call No.: 920/Boc/j/C.1
Status: Ada/Available

***
Film buffs and specialists will welcome Audie Bock's Japanesse Film Directors as a fresh approach to one of the world's most fascinating cinemas. It is an in-depth study of ten important filmmakers, including Ozu, Kurosawa, and Oshima, whose careers and artistic vision represent the stages through which Japanese film history has progressed. A separate chapter is devoted to each director, and a detailed for a brief biography, a disscussion of main interests and visual style of the individual director, and a detailed analysis of the most significant film he has made, often illuminated by the director's own evaluation and comments. Each chapter includes a complete annotated filmography comprising succinct plot summaries, critical appraisal, and notes on the availabilityof prints in the United states and Japan. A unique feature of this book is the extensive use material based on the author's conversation with most of the directors.

Divided into three basically historical sections that group the directors roughly by age. Japanese Film Directors view the changing moods, attitudes, and concerns of the prewar 1930s, the postwar mid-1950's, and the late 1960s, reflected by each director's convictions about his work during these significant periods in the evolution of Japanese cinema. This new paperback edition includes updated filmographies coverinhg new films through the mid-1980s. Richly illustrated with one hundred-balck-and white stills from many of the films treated, Japanese Film Directors also provides a selected Japanese -and Western-languages bibliography.

DOUBLE VISION, Andrzej Wajda

Judul/Title: Double Vision
Penulis/Author: Andrzej Wajda
Penerbit/Publisher: Faber and Faber
Edisi/Edition: 1986
Halaman/Pages: 136
Dimensi/Dimension: 13.5 x 21.5 x 1.2cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: English
Harga/Price: Rp. 90.000,-
Call No.: 920/Waj/d/C.1
Status: Ada/Available

***
Andrzej Wajda is Poland's greatest film-maker -- a man whose career has spanned and reflected the making of modern Poland, from the ashes of the Second World War to the creation of the Solidarity movement.
This Wajda's account of his development from an 'incredibly naive young man to a politically aware and sophisticated director of international importance. He writes with wit and ease about the practicalities and pitfalls of film-making, illustrating his theory with examples from his own films including Ashes and Diamonds, Kanal and Danton.

This is a fascinating picture of a man whose sense of national identity is as strong as his artistic sense, and a unique account of the recent history of Poland filtered through a life in film.

ALFRED HITCHCOCK, Gene D. Phillips

Judul/Title: Alfred Hitchcock
Penulis/Author: Gene D. Phillips
Penerbit/Publisher: Twayne Publishers
Edisi/Edition: 1984
Halaman/Pages: 211
Dimensi/Dimension: 13 x 21 x 2cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: English
Harga/Price: Rp. 90.000,-
Call No.: 920/Phi/a/C.1
Status: Terjual/Sold

***
Alfred Hitchcock is one of the most important and most honored directors in the history of film. With the recent re-release of vertigo an Rear Window, a new generation can savor his genius while his devotees confirm their admiration. Hitchcock's wit, cunning, and technical expertise remind us how good film can be. Gene D. Phillips relies on scholarship rather than sensationalism as he examines the whole of Hitchcock's career-in film and television- in order to define the director's accomplishment. This thoughtful, fair-minded appraisal will be welcomed by Hitchcock enthusiasts.

BETWEEN ART AND REALITY, A. Samad Said

Judul/Title: Between Art and Reality
Penulis/Author: A. Samad Said
Penerbit/Publisher: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia
Edisi/Edition: I, 1994
Halaman/Pages: 479
Dimensi/Dimension: 14 x 21.5 x 5cm
Sampul/ Cover: Paperback
Bahasa/Language: English
Harga/Price: Rp. 80.000,-
Call No.: 899.234/Sai/b/C.1
Status: Ada/Available

Between Art and Reality: Selected Essay is the first work of non fiction to be published in English translation by Malaysia's leading novelist A. Samad Said.

These essays deal with a wide range of topics including Samad's own development as a writer, Indonesian and Malay literature, art, film and drama; as well as world literature, popular science and malaysian and international politics.

Written over three decades these essays are short, sometimes highly poetic, expressions of A. Samad Said's interest in the richly varied of humanity and its multiple means of self-communication.